Simalungun//lentera9.com
Setelah selama 40 tahun masyarakat Huta Rapuhan, Nagori Panduman Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun Sumatera Utara melintasi jembatan gantung, kini sudah dibangun melalui program jembatan garuda dari Mentri pertahanan.
Pada saat wartawan media Suaraglobal meninjau jembatan gantung tanggal 03/11/2026, di Huta Rapuhan, Desa Panduman kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun Sumatera Utara salah satu tokoh masyarakat yang lahir di Huta Rapuhan Nagori Panduman menceritakan, ” terealisasi nya jembatan ini cukup menempuh perjuangan panjang sehingga hari ini harapan masyarakat Rapuhan terwujud. Semenjak saya umur 10 tahun pada tahun 1968 saya sudah ingat, jembatan ini hanya bambu sebayak enam batang yang dirakit dan diletak diatas batu dipermukaan air. Pada saat itu, dari titi (jembatan) bambu itulah kami sekolah berjalan kaki menuju Desa Bah Bulian. Menurut orang tua saya jembatan bambu dibuat mulai tahun 1940.
Pada tahun 1986 titi bambu dirubah menjadi jembatan gantung dengan biayaya swadaya masyarakat. Besi beton berukuran 12 Mili untuk jadi penopang lantai jembatan yang terbuat dari bambu. Pada saat itu masyarakat sudah bisa melintas menggunakan sepeda motor walaupun jembatan ketika dilintasi bergoyang. Dan pernah juga jembatan diterjang air sungai sewaktu banjir besar sampai hancur, tapi kami tetap memperbaiki dengan dana swadaya masyarakat. Tak cukup sampai disitu kami memang mengharapkan jembatan ini permanen dan dapat dilintasi roda 4 seperti mobil minibus”. Tutupnya Saridin saragih.
Menurut warga jalan utama ke Huta Rapuhan tersebut memang ada. Tapi menempuh jarak yang cukup jauh dan hampir 10 x dibanding dari jembatan gantung ini. Belum lagi jalan yang rusak sehingga susah di lewati mobil minibus, terutama kalau membawa warga yang sedang sakit.
Pada tahun 2013 masyarakat mengajukan kepada pemerintah untuk dibangun kan jembatan permanen. Bahkan masyarakat mengundang salah satu televisi swasta tv one berharap mendapat pembangunan jembatan. Akhirnya masyarakat berupaya membangun jembatan dengan swadaya masyarakat dengan mendirikan tiang jembatan sehingga menghabiskan anggaran 140 juta. Dengan adanya swadaya tersebut masyarakat mengajukan kepada pemerintah kabupaten Simalungun untuk melanjutkan pembangunan jembatan tersebut. Hingga tahun 2021 melalui dinas pekerjaan umum (PU) dan anggota dewan dari partai Nasdem Kabupaten Simalungun meninjau dan akan melanjutkan pembangunan yang sudah di bangun masyarakat. Tapi pada akhirnya masyarakat harus menerima kenyataan pahit.
Pembangunan jembatan yang sudah didepan mata gagal dibangun. Masyarakat harus merasakan kekecewaan yang menyedihkan, jalan ke jembatan tersebut melintasi tanah milik warga, dan tidak mendapat ijin dari pemilik tanah tersebut. Menurut warga tanah tersebut milik suami kepala desa (Pangulu) Nagori Panduman yang menjabat sampai saat ini. Masyarakat kecewa karena pemerintah kabupaten Simalungun tidak bisa memberi solusi atau pendampingan untuk penyelesaian permasalahan ijin tanah milik suami pangulu Panduman tersebut.
Gagalnya pembangunan jembatan tak membuat surut niat masyarakat untuk terus berupaya agar jembatan gantung tetap dibangun pemerintah. Akhirnya pada tahun 2026 masyarakat membuat satu kelompok bernama tujuh pentolan. Tujuh pentolan ini yang berupaya memohon dan berjuang melalui sosial media memviralkan jembatan tersebut, sehingga tujuh pentolan mendengar ada program jembatan garuda melalui Mentri pertahanan yang langsung di ajukan melalui Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tujuh pentolan langsung mengajukan ke Koramil 20 Raya kahean dan koramil 0204-15/Sipispis, juga ke Kodim 0207/Simalungun. Di awal September 2026 datang team survei dari Tentara Nasional Indonesia dan kontraktor melihat langsung kondisi jembatan. Dan sampai akhir Oktober jembatan gantung tersebut selesai dibangun dan dapat di lalui masyarakat Huta Rapuhan.
Dengan hati sedih bercampur bahagia salah seorang warga bernama safrik menceritakan, ” kami senang jembatan gantung sudah selesai di bangun dan mudah dilalui roda dua. Sedihnya hati kami tiang batu jembatan permanen yang kami bangun yang menghabiskan anggaran 140 juta jadi sia sia karena tidak jadi digunakan. Tiang besar menjadi kenangan dan kami berinama batu keegoisan untuk menjadi sejarah hilang akal karena ego. Tutupnya sambil mata berkaca-kaca menahan air mata. Red



